Postingan Terakhir

Cerpen "Say No To Baper" by Nur Azizah (XI MIA 1)

Say No To BAPER
Oleh : Nur Azizah (XI MIA 1)
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengikuti sebuah organisasi yaitu osis. Alasan kenapa aku masuk osis sebenarnya karena aku penasaran bagaimana sih rasanya ikut suatu organisasi dan bersosialisasi dengan orang yang lebih banyak. Jujur saja aku sangat ingin merubah sifatku yang sangat kaku dan pendiam dalam hal bergaul dan mencari teman. Aku ingin memiliki banyak teman dan dikenal oleh orang banyak.
Setelah beberapa minggu aku bergabung dengan osis, aku pun diundang digrup whatsapp osis, aku pun mulai mencoba untuk berbaur dengan anggota osis yang lain, walaupun di sosmed aku sangat rebut. Tapi, tetap saja saat bertemu secara langsung dengan anggota osis terutama para seniorku di osis aku kembali menjadi diriku yang sangat pemalu dan pendiam. “Wahh,  ada kak Galih, tegur gak yah? ahh, tapi aku malu . Entar aku dikacangin lagi, yaudah lah aku gak usah tegur aja kali” ucapku dalam hati yang bingung antara menyapa kak Galih atau tidak.

***

Suatu pagi saat aku sedang bersiap-siap untuk ke sekolah, tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan langsung saja ku ambil ponselku dan aku pun melihat pesan yang masuk, di pesan itu tertulis bahwa ayah dari kak Farid telah meninggal dunia kemarin sore, sontak saja aku pun terkejut. “Innalillahi waa innailaihi roojiun.” ucapku sesaat setelah membaca berita duka itu.
Sepulang sekolah aku diajak Dina untuk pergi melayat bersama dengan anggota osis yang lain. “Pulang sekolah kita melayat ke rumah kak Farid yok! barengan sama anak osis yang lain juga kok” ajak Dina. “Ayok, tapi kita naik apa Din?” aku pun mengiyakan ajakan Dina dan kembali bertanya kepadanya. “Kita naik angkot aja kesana” jawab Dina, “baiklah” jawabku sambil mengangguk.
Saat bel pulang berbunyi aku, Dina, kak Rosyit dan teman-teman yang lain pun berkumpul di depan gerbang sekolah. Karena yang tahu rumah Kak Farid itu Kak Rosyit, jadi Kak Rosyit pun bertindak sebagai penunjuk jalan bagi kami semua. “Yaudah yok kita langsung pergi aja yok! entar keburu sore lagi” ajak kak Rosyit. Kami pun berjalan kaki menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot yang akan membawa kami ke rumah kak Farid, dan akhirnya ada angkot yang singgah dan langsung saja kami semua naik ke angkot itu.
Beberapa menit kemudian, angkot pun berhenti dan kami pun sampai di depan gang rumah kak Farid. Karena rumah kak Farid masih jauh di dalam gang jadi kami harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah kak Farid. “RumahkKak Farid di bagian mana? Masih jauh gak kak?” tanya ku kepada kak Rosyit,“ udah deket kok Dek.” jawab kak Rosyid
Akhirnya kami pun sampai di rumah kak Farid . “Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh, permisi ada Farid gak tante?” kak Rosyit pun memberi salam dan menayakan keberadaan kak Farid setibanya kami disana. “Wa’alaikumssalaam warohmatullahi wabarakatuh. Oh, Farid ada di dalam kok. Sebentar yah tante panggilin, silahkan masuk Dek!” jawab ibunya kak Farid sembari mempersilahkan kami masuk. “Iya tante”  jawab kami serentak. Kak Farid pun melangkah keluar dari rumah nya “silahkan masuk guys” sambut kak Farid sembari mempersilahkan kami masuk. “Iya,” jawab kami serentak, dan kami pun langsung masuk ke dalam rumah kak Farid.
Disana Kami pun dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang dihidangkan di rumah kak Farid. Dengan malu-malu kami mengambil makanan yang dihidangkan. Taklupa  kami pun mengucapkan rasa bela sungkawa kami kepada kak Farid dan keluarganya. Kami pun mengajukan beberapa pertanyaan kepada kak Farid tentang ayah nya dan berbicara tentang banyak hal dengan kak Farid dan juga ibunya.
Karena sudah sore, kami pun berpamitan kepada kak Farid dan juga ibunya “Rid, udah sore nih kami pulang dulu yah” kak Rosyit pun pamit kepada kak Farid.  “Iya guys, makasih yah udah dating.” Kak Farid pun berterima kasih dan memberikan kami sebuah kantong plastik yang berisi makanan untuk dibawa pulang.  Tidak perlu menunggu lama, ada sebuah angkot yang berhenti tepat di depan kami “Mau kemana Dek?” tanya sopir angkot. “Dekat city mart yang bang!” pinta kak Rosyit kepada sopir angkot.

***

Setelah dari rumah kak Farid, aku dan kak Rosyit pun mulai dekat. Bahkan di grup whatsapp saja aku dan kak Rosyit mulai bertegur sapa dan bercanda. “ Hai Kak Rosyit “ aku pun mulai menyapa kak Rosyit. “Hai juga dek,”  kak Rosyit pun menyapa ku kembali. Obrolan digrup whatsapp osis  pun semakin larut semakin panjang.
Suatu malam, saat grup whatsapp sedang rame-ramenya dan pembahasan mereka yang sangat luas dan panjang, tiba-tiba saja kami mulai membahas tentang idola. “Eh,eh Ran lagu JKT 48 yang baru bagus yah? Aku suka banget deh.” tanya Elsa “ia Sa, aku sih paling suka bagian Nabila” jawab Rani. “Wah, pada suka JKT yah? Wah sama dong” kata kak Adi. Tiba-tiba saja kak Rosyit pun muncul “Mending kalian ngefans sama aku. Dijamin gak bakalan nyesel deh.” ucap kak Rosyit  yang sedang membanggakan dirinya. “Jiahh, Kak Rosyit narsis nya juga” ucapku dengan nada yang sedikit mengejek. “Ishh, kalian ni masa nda ada yang ngefans sama aku sih?” tanya kak Rosyit. “ Ciaahh, malas ah ngefans sama Kak Rosyit. Mendingan aku ngefans sama EXO aja lebih cakep lagi ” Ucapku yang benar-benar mengejek kak Rosyit.”Ishhh, apa bah kalian ni?” balas kak Rosyit yang kesal. “Wkwk, iyala aku ngefans sama Kak Rosyit lah. Supaya kakak senang.” jawab ku dan aku mencoba untuk menghibur kak Rosyit. “Hahah, makasih dek.” jawab kak Rosyit yang tampak senang.
Semakin hari kami berdua semakin sering mengobrol lewat whatsapp dan kami pun tidak segan untuk  bertanya satu sama lain  bahkan curhat. Hal itu membuat kami dekat tetapi hanya di sosmed saja. Karena pada kenyataannya saat kami bertemu secara langsung kami masih malu-malu untuk bertegur sapa. “ Dek, tadi kok gak negur kakak sih?”  tanya Kak Rosyit. “Aku malu kak.” jawab ku. “Loh, kok malu sih? Malu sama siapa ?” tanya kak Rosyit yang penasaran dengan jawaban ku. “malu sama teman kakak lah.” jawabku dengan malu-malu. “Lahh, ngapain malu coba? Lagian kan mereka anak osis juga?” ucap kak Rosyit, “tapi kan tetap aja aku malu.” Jawaban ku yang masih tetap sama. “Lain kali sapa aja yah Dek, lagian kan kami juga nda makan orang.” pinta kak Rosyit. “Insya Allah yah kak, tapi Kak Rosyit juga sapa aku dong, masa aku terus yang sapa Kak Rosyit.” jawabku dengan nada merengek. “Sip lah Dek.” Jawabnya yang menyetujui permintaanku.
 Suatu hari, saat aku baru selesai mengganti  foto profil salah satu akun sosmed ku tiba-tiba saja ponsel ku bergetar dan ada pesan masuk. Ternyata pesan itu dari kak Rosyit yang mengomentari foto ku. “Cantik Dek,” ucap kak Rosyit yang sedang memuji ku. “Huh? “ aku pura-pura tak mengerti maksud kak Rosyit. “Muka mu Dek, cantik.” jawabnya yang memperjelas maksudnya. “Oala, makasih Kak” aku pun berterima kasih padanya. “BTW Dek, kamu lagi apa?“ kak Rosyit bertanya padaku. “Lagi nonton aja sih kak.” Jawabku, “ nonton apa Dek?” tanya Kak Rosyit. “Nonton drama korea Kak.” jawabku. karena semakin malam kak Rosyit pun memnyuruhku untuk tidur dan beristirahat “udah malam ni dek, kamu tidur gih!” aku pun menurutinya “iya Kak, Kakak juga.”
Kak Rosyit memang sering mengomentari foto-fotoku dan memberikan pujian padaku yang mebuat aku semakin baper (bawa perasaan) kepadanya. Lambat laun perasaanku yang tadinya cuma biasa saja lama-lama berubah menjadi tidak biasa, dan aku bertanya-tanya apakah ini yang dinamakan baper. Tapi masa iya sih aku baper sama kak Rosyit? Aku bertanya pada diriku sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir lagi mungkin saja aku baper mengingat sifatnya yang perhatian padaku, sering curhat padaku, dan mengobrol dengan ku. Ahhh, itu semua membuatku semakin nyaman dengannya dan aku benar-benar baper sama Kak Rosyit.
Karena aku benar-benar sudah baper sama kak Rosyit, saat dia belum mengrimkan pesan padaku walaupun hanya sehari aku sudah benar-benar merimdukannya. Dan pada akhirnya aku pun nekat dan mengirimi pesan duluan kepada kak Rosyit “Hai kak!“  “Hai juga dek ” ia pun menyapaku. Dan seperti biasa kami pun bercerita, bertanya satu sama lain. Saat aku membaca membalas pesanku aku tersenyum dan aku pun merasa sangat bahagia.
Sudah seminggu ini kak Rosyit tidak pernah menghubungiku. Karena aku penasaran, aku pun memutuskan untuk menjadi stalkernya, aku memeriksa semua akun sosmednya. Saat aku memeriksa sosmednya wajahku langsung berubah kaget,  seperti ada bom waktu yang baru saja melutus di dalam hatiku saat aku mengetahui bahwa kak Rosyit ternyata menyukai orang lain. “jadi selama ini cuman aku yang senang, cuman aku yang bahagia, cuman aku yang salting kalau ketemu dia, cuman aku yang baper. Ahhh, aku benar-benar bodoh” ucapku dengan mata yang berkaca-kaca yang menggambarkan perasaan sedihku.
Semenjak saat itu aku mulai berusaha melupakan kak Rosyit dan menghindarinya. saat aku sedang memeriksa hp ku tiba-tiba saja kak Rosyit mengirimiku pesan “Pagi Dek?“ karena aku ingin move on dari kak Rosyit pesan itu hanya kubaca dan kuabaikan. Kok kamu sombong sih Dek?” kak Rosyit kembali mengirimiku sebuah pesan. “Enggak ko Kak, siapa juga yang sombong?”  jawabku yang sedikit sinis. “Terus kenapa pesan aku cuma dibaca aja, gak dibalas?” tanya kak Rosyit yang penasaran dengan tingkah laku, “engga kok kak, soalnya aku lagi nyuci jadi gak sempat balas ” balas ku. Karena aku masih merasa aneh dan canggung tanpa pikir panjang aku langsung mematikan ponselku.
Ternyata sudah hampir dua bulan aku sudah tidak pernah berkomunikasi dengan kak Rosyit kami benar-benar lose contact. Seperti biasa saat mentari telah terbit aku selalu pergi ke sekolah bersama dengan adikku. Saat sedang di jalan tiba-tiba saja aku melihat kak Rosyit dengan seorang wanita dan wanita itu tak lain adalah teman sekelasku. Raut wajahku langsung berubah drastis, dan di benakku langsung timbul sebuah pertanyaan “apakah mereka berdua pacaran?” saat aku sedang duduk dan menghela nafas tiba-tiba saja Rani datang “eh, ada berita baru loh!” ucap Rani yang sangat terkejut seperti sesuatu yang besar telah terjadi. “Memang apa beritanya?” karena penasaran aku pun bertanya pada Rani “ ternyata Kak Rosyit sudah jadian loh sama Mira!” Rani pun menjawab pertanyaan ku, “ternyata benar dugaanku.” ucapku dalam hati yang telah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku pagi ini.

***

Seiring dengan berjalannnya waktu, kini aku benar-benar yakin bahwa aku harus berusaha sekuat tenaga untuk move on dari kak Rosyit dan jangan gampang baper. Tekad ku ini semakin kuat setelah aku mengikuti beberapa seminar dan membca beberapa artikel tentang larangan berpacaran. Aku menjadi sangat bersemangat untuk menghilangkan perasaanku kepada kak Rosyit dan aku berjanji terhadap diriku sendiri dan juga Allah SWT. bahwa aku akan menjadi seorang ”JOMBLO ISTIQOMAH” yaitu jomblo karena Allah dan bukan malah menjadi seorang yang “JOMBLO KARENA NASIB.”
Setelah menjadi seorang JOMBLO ISTIQOMAH,  alhamdulillah aku benar-benar merasakan manfaatnya yaitu aku tidak pernah merasa galau, baper, malam minggu kelabu, atau apa lah itu istilah yang seering digunakan anak-anak muda jaman sekarang yang sedang meratapi nasibnya karena jomblo.
 

Cerpen "Sahabat Sesungguhnya" by Iga Meiliana Pangesti (XI MIA 1)

Sahabat Sesungguhnya
Oleh : Iga Meiliana Pangesti (XI MIA 1)
Di pagi hari yang dingin  saat fajar hendak menjemput sang surya untuk menampakkan sinarnya, aku berjalan menelusuri sunyinya kampungku untuk  menuntut ilmu. Saat itu, keadaan sangat sepi sehingga tak satupun kulihat orang berlalu lalang. Tetapi, hal itu tak menyurutkan semangatku untuk menuntut ilmu, karena bagiku ilmu adalah separuh hidupku.
            Aku adalah Renata, gadis remaja kampung yang culun dengan ciri khas  rambut ikat dua.  Aku duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Ayahku adalah seorang buruh serabutan dan ibuku hanyalah tukang cuci keliling. Kebetulan aku adalah anak semata wayang sehingga kedua orang tuaku setiap hari bekerja keras demi menghidupiku dan mencapai cita-cita mereka yaitu agar kelak aku tidak bernasib sama seperti mereka dan menjadi orang yang sukses tentunya. Oleh karena itu, mereka adalah alasanku untuk terus semangat dalam menuntut ilmu. Meskipun aku adalah anak semata wayang mereka, aku selalu berusaha untuk mandiri dan tidak mau merepotkan mereka.
            Akhirnya setelah sekitar 20 menit aku berjalan, tibalah aku di sekolah, tempat aku menjemput masa depanku. Setiap pagi, udara dingin yang menusuk hingga ke tulang selalu menemani hari-hariku di sekolah. Lokasi sekolahku memang dekat dengan pegunungan sehingga tak heran udaranya selalu dingin dan sejuk. Setiap pagi aku adalah makhluk pertama yang menginjak sekolah, bahkan satpam pun kalah cepat dari aku. Aku memang sengaja pergi sekolah lebih awal karena aku tahu orang tuaku bukanlah orang yang berada, untuk makan saja masih harus memutar otak, apalagi untuk memiliki kendaraan pribadi. Oleh sebab itu, aku berusaha untuk mandiri, sehingga untuk pergi sekolah, aku hanya mengandalkan kedua kakiku yang kurus ini .
Sambil menunggu teman-teman datang, biasanya aku selalu membersihkan kelasku, ya aku memang tipe orang yang pembersih, meskipun aku berpenampilan culun tetapi aku sangat mencintai kebersihan jadi sekecil apa pun kotoran jika terlihat olehku, maka aku akan segera mengantarkan kotoran tersebut ke tempat sampah. Jadi, bisa dibilang setiap pagi aku berolahraga yaitu mulai dari pergi sekolah jalan kaki hingga membersihkan kelas.
Beberapa menit kemudian, aku pun selesai membersihkan kelas yang mulanya berantakan. Satu per satu temanku pun mulai berdatangan hingga kelas pun mulai ramai. Tetapi, meskipun begitu, bagiku sama aja ada atau tidak ada mereka, toh tidak ada yang mau bermain denganku. Dari 24 siswa dikelas, tak satupun yang ingin bermain denganku. Mereka hanya mencariku pada saat-saat tertentu saja misalnya jika akan diadakan ulangan. Aku adalah salah satu murid yang cukup pintar di kelas, jadi mereka kerapkali mendekatiku untuk sekedar berdiskusi tentang materi pelajaran yang akan diulangkan. Setelah ulangan selesai, begitu pula pertemanan kami yang juga ikut selesai. Maklum saja, tidak ada orang yang mau bermain dengan orang culun sepertiku. Ya tak apalah.  Bagiku sudah senang rasanya bisa berbagi ilmu dengan orang lain.
            Hari demi hari kulewati, tak ada yang berbeda, semuanya sama. Setiap hari aku bagaikan hidup sebatang kara di sekolah. Yang berbeda hanyalah semangatku dalam belajar yang setiap hari semakin bertambah. Sempat terlintas di benakku untuk memiliki sahabat. Tetapi tidak mungkin rasanya. Hari ini kelas kami dihebohkan oleh isu akan adanya siswa baru besok. Aku hanya menganggapnya angin lalu karena aku berfikir bahwa meskipun ada siswa baru, toh dia juga mungkin sama seperti teman-teman lainnya yang enggan untuk sekedar bermain denganku.
            Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 yang berarti sudah berakhirnya proses belajar mengajar di sekolah hari ini. Aku pun bersiap-siap merapikan segala perlengkapan yang telah selesai digunakan hari ini dan  bergegas untuk pulang ke rumah. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagiku, sehingga aku pulang dengan wajah sedikit cemberut.
            Diperjalanan pulang, aku berjalan dengan sedikit cepat karena udara terasa panas. Saat aku sampai di perempatan jalan, aku melihat seorang gadis yang mungkin seumuran denganku sedang berbicara sambil melihat ke atas pohon tinggi di sebelahnya. “ Ayo Keti, kamu harus turun,” ucap si gadis. Karena gadis itu terlihat kesusahan, aku pun segera meghampirinya.
“ Kamu ngapain ngomong sama pohon siang-siang gini?” tanyaku.
“ Hmm… tolong aku dong, kucingku terjebak di atas pohon itu dan aku nggak berani manjat pohon itu. Tinggi banget soalnya.” jawab si gadis dengan nada sedikit cemas.
“ Oke, kamu tunggu sini , aku coba manjat ya,” ucapku dengan nada menenangkan.
            Kemudian, aku segera melepaskan tas besar di punggungku dan segera memanjat ke atas pohon itu. Aku memang sedikit tomboy sehingga tak heran untuk urusan manjat-memanjat aku adalah juaranya. Awalnya aku mengalami sedikit kesulitan saat hendak mengambil kucing tersebut karena kucing itu sempat beberapa kali mencakarku. Akhirnya, setelah beberapa menit, kucing lucu itu pun dapat  ku tangani dan ku bawa turun ke bawah. Gadis itu kemudian mencium dan mengelus kucing itu dengan penuh cinta.
“Makasih ya kamu udah bantu ngambil si Keti, “ ucap si gadis.
“ Oh iya sama-sama.” jawab ku.
            Lalu, aku pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di gubuk kecil ini. Nyaman rasanya sudah sampai di rumah dengan selamat.
            Keesokan harinya, aku kembali melanjutkan rutinitasku seperti biasa, yaitu ke sekolah. Hari ini aku merasa sedikit tidak enak badan, tetapi meskipun begitu aku tetap semangat untuk bersekolah. Setelah beberapa menit aku berjalan, akhirnya sampailah aku di sekolah. Hari ini aku berjalan sedikit lambat sehingga ketika aku tiba di sekolah, keadaan kelas sudah mulai ramai. Tetapi di dalam keramaian itu, aku melihat seorang gadis yang tidak asing bagiku. Tak lama kemudian, gadis itu pun menghampiriku.
“ Loh, kamu kan yang kemaren tolongin aku ngambil si Keti?” tanya gadis itu.
“ Eh iya, kamu sekolah disini?” tanyaku heran.
“ Iya, aku baru pindah dari kota soalnya ayahku kerja di sini sebagai dokter.” jawab gadis itu.
“ Oh iya, dari kemaren kita belum kenalan nih, namaku Renata, kamu?” tanyaku.
“ Oh iya, namaku Clara, seneng ya bisa kenal kamu,” jawab gadis itu.
“Hehe iya, aku juga seneng bisa kenal kamu.” ucapku sambil tersenyum.
            Hari demi hari, kami pun semakin akrab. Aku sangat senang akhirnya aku memiliki sahabat seperti yang kuimpikan saat ini. Walaupun sebenarnya aku masih tidak menyangka akhirnya ada orang yang mau berbicara padaku bahkan bersahabat denganku. Hingga teman-teman di kelasku mengatakan bahwa kami adalah sahabat yang paling sempurna di dunia ini. Selama ini, kami berusaha untuk saling melengkapi dan saling membantu sebagai sahabat. Bahkan bisa dikatakan kami jarang sekali bertengkar.
            Hingga suatu hari, ada seorang siswa laki-laki di sekolah yang menyukaiku. Namanya Dimas. Sebenarnya aku pun tak yakin dan penasaran mengapa ia bisa menyukai, padahal aku hanya gadis kampung yang culun. Semenjak hari itu, ia selalu datang sekolah lebih awal dan menjadi makhluk penghuni sekolah kedua yang datang lebih awal setelah aku. Setiap tiba di sekolah, ia selalu menghampiri ku yang sedang membersihkan kelas yang berantakan dan membicarakan hal-hal yang tidak penting kepadaku. Tetapi meskipun begitu, aku berusaha untuk bersikap ramah kepadanya walaupun sebernarnya aku sama sekali tak menyukainya dan menganggapnya hanya teman saja. Aku pun mengenalkan Dimas pada Clara sahabatku. Clara memang belum mengenal Dimas karena Dimas berada di kelas yang berbeda dengan kami.
            Semakin hari level kebahagiaanku semakin bertambah. Mulai sekarang aku, Clara, dan Dimas selalu menghabiskan waktu istirahat bersama di sekolah, walaupun Dimas sesekali sering merayuku ketika kami sedang berkumpul bersama. Meskipun begitu, kami tetap asik bermain bersama.
            Hingga suatu hari, aku merasa ada yang berbeda dengan sikap Clara kepadaku. Ia jarang menyapaku dan terbatas jika berbicara kepadaku. Awalnya aku berfikir bahwa ia sedang sakit, tetapi setelah seminggu kemudian, ia tak pernah menyapaku dan mengabaikanku. Aku bingung mengapa sikap Clara berubah kepadaku. Aku sempat menghampirinya dan mencoba menegurnya, tetapi ia tetap tak menghiraukanku dan berusaha untuk menghindar. Akhirnya aku pun memilih untuk tidak lagi menyapa Clara yang semakin-hari semakin cuek. Aku sangat sedih dengan sikap Clara yang seperti itu. Dimas yang sering bermain dengan kami pun ternyata sering memperhatikan kami yang tidak lagi akrab seperti dulu. Ia pun akhirnya bertanya kepadaku akan hal itu dan aku pun mengatakan bahwa tidak terjadi pertengkaran antara kami, Clara tiba-tiba saja tidak menyapaku dan berusaha menghindar dariku. Dimas pun berusaha untuk menenangkanku. Sejak peristiwa ini, sekarang aku hanya ditemani Dimas untuk menghabiskan waktu istirahat di sekolah, tanpa sahabatku Clara.
            Keesokan harinya, aku pun memberanikan diri untuk berbicara kepada Clara dan bertanya mengapa sikapnya kepadaku berubah. Namun, ketika aku akan menghampirinya, aku pun kaget ketika melihatnya menangis tersedu-sedu di bangku kelas dan aku melihat ada Dimas disampingnya yang terlihat sedang berusaha untuk menenangkan Clara. Akhirnya, aku pun mengurungkan niatku dan berharap bahwa Clara tidak apa-apa. Ketika waktu istirahat tiba, aku pergi ke kantin sekolah untuk membeli sebotol minuman. Kali ini, aku menghabiskan waktu istirahat seorang diri tanpa Clara dan Dimas. Namun, saat aku akan membayar botol mineral tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku. Ternyata orang itu adalah Dimas.
“ Eh, kamu kemana aja? Aku cariin daritadi nggak ada, eh taunya udah di kantin aja.” ucap Dimas dengan wajah cemberut.
“ Hmm maaf ya tadi aku ninggalin kamu, soalnya tadi aku liat kamu di kelas lagi sama Clara, jadi aku pikir aku istirahat sendiri aja.” jawabku.
“ Eh iya, tadi awalnya aku mau ke kelas kamu mau ngajakin kamu istirahat bareng, eh malah aku liat Clara yang lagi nangis, yaudah aku samperin aja.” kata Dimas.
“ Oh iya, itu Clara kenapa emang nangis gitu? Aku kasian ngeliat dia.” tanyaku penuh penasaran.
“ Tadi si Clara cerita, katanya ayahnya lagi sakit parah dan kemungkinan untuk sembuh kecil banget, sementara si Clara belum siap untuk kehilangan ayahnya karena selama ini yang jadi tulang punggung keluarga mereka itu ayahnya. Jadi dia sekarang lagi sedih banget” jelas si Dimas.
“ Hah? Serius? Kasian banget si Clara. Aku turut sedih dengarnya.” ucapku.
“ Yaudah kan kamu sahabatnya Clara, mending sekarang kamu datangi dia terus kasih semangat dia biar dia nggak sedih lagi.” saran Dimas.
            Tak lama kemudian, bel pun berbunyi tanda istirahat telah usai. Kami pun langsung bergegas untuk ke kelas masing-masing. Sementara berjalan menuju kelas, aku terus kepikiran tentang saran Dimas tadi.
            Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi ke rumah Clara yang tak jauh dari sekolah untuk sekedar menjenguk ayahnya yang sakit dan memberi semangat kepada Clara. Beberapa menit kemudian, aku pun tiba di rumah Clara yang cukup besar. Aku mencoba untuk mengetuk pintu dan akhirnya ada seseorang yang membukakanku pintu. Ternyata itu adalah Clara. Wajahnya terlihat sedikit kaget saat melihat kehadiranku di hadapannya. Kemudian, ia pun mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya dan menyuruhku untuk duduk di sofa empuknya. Di rumahnya, aku disuguhkan berbagai makanan lezat, tetapi bukan itu tujuan aku datang kerumah Clara, melainkan untuk menjenguk ayahnya dan memberikannya semangat. Saat kami duduk bersama di sofa, kami seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain sehingga hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Kemudian aku pun memberanikan diri untuk memulai percakapan kami dengan menanyakan keadaan ayahnya. Dari situ, Clara mulai berbicara walaupun sangat terbatas.
            Setelah aku bertemu dengan ayah Clara yang sedang sakit, kemudian aku pun memberikan semangat kepada Clara agar ia tetap berfikir positif dan yakin bahwa ayahnya pasti bisa sembuh. Clara yang awalnya hanya diam saja, kemudian ia pun mulai berbicara kepadaku. Tanpa kuduga, dia pun meminta maaf kepadaku dan menceritakan mengapa ia selama ini tidak menegurku. Ternyata, selama kami dan Dimas bermain bersama, Clara iri dengan aku yang selalu dirayu oleh Dimas karena selama ini, Clara menyukai Dimas. Kemudian aku pun memperjelas bahwa aku dan Dimas tidak ada hubungan lain diantara kami selain hubungan pertemanan. Clara pun akhirnya terbuka hatinya dan kami pun saling meminta maaf. Semenjak saat itu, hubungan persahabatanku dengan Clara mulai tersambung kembali dan kami pun mulai akrab seperti dahulu. Aku pun merasa lega karena tidak ada lagi permasalahan yang menyelimuti perasaanku. Sementara Dimas pun ikut bahagia melihat kami yang akrab kembali dan bermain bersama lagi bertiga.
 

Cerpen "Realita" by Riri Romadhaniah (XI MIA 1)

REALITA
Oleh : Riri Romadhaniah (XI MIA 1)
      Semua ini berawal disaat aku menginjak usia remaja. Dulu hidup terasa bahagia bahkan rasa kecewa jarang muncul. Bapakku selalu memanjakanku setiap kebutuhan dan hal-hal yang kubutuhkan kebanyakan terpenuhi, bapak merangkap menjadi mama semenjak aku duduk dikelas 5 SD.
   Awalnya hidupku terasa baik-baik saja karena bapak dan saudara-saudaraku selalu menemani perjalanan pertumbuhanku. Tapi semua terasa hambar waktu temanku menanyaiku tentang keadaan dirumah.
 “Hm mamaku sudah meninggal”
      Jujur aku paling tidak bisa ditanya mengenai mama karena menurutku tuhan memanggil mama terlalu cepat. Disaat anak-anak lain merasakan pertumbuhannya yang akan menginjak remaja diajar ini itu bersama mamanya aku bahkan harus tanya ini itu sama kakakku. Aku tau temanku pasti merasa aku tersinggung soal pertanyaannya tapi apa boleh buat, toh rahasia apapun yang disembunyikan pasti ujungnya akan terungkap.
      Dimasa-masa SMP aku sudah bisa beradaptasi dengan keadaanku. Aku bersyukur mempunyai bapak yang super perhatian dan penuh kasih sayang dan 4 saudara yang lebih tua dariku dan memiliki pengalaman yang lebih lagi dariku. Karena terlalu sering dimanjakan aku baperan mungkin inilah sifat yang paling temanku tahu.
Saat aku duduk dikelas 3 SMP disemester 2 semua berubah menjadi itam putih.
      Bapak jatuh sakit, pelan-pelan asmanya kambuh. Aku jarang liat bapakku sakit mungkin bapak orang yang paling hebat menyembunyikan rasa sakitnya. Mulai dari tekanan, diabetes, asma, infeksi paru-paru semua berlomba-lomba jadi penyakit bapakku sampai akhirnya bapakku berangkat ke Samarinda dan aku tinggal di Tarakan karena harus menyelesaikan ujian kelulusan.
      Saat beginilah manusia merasa cobaan dari yang Maha Kuasa sangatlah berat. Selama 4 bulan aku menahan rindu dan hanya bisa kutuangkan dengan telepon, ditelepon bapak selalu mengatakan ia baik-baik saja. Tapi, dibalik baik-baik saja ada rasa sakit yang ia sembunyikan takut kalau aku tau mungkin aku bisa ngedrop apalagi sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan.
      Dibulan Mei 2014 setelah ujian selesai, aku berangkat ke Samarinda menyusul bapakku. Rasanya campur aduk akhirnya rindu yang kusimpan terbalaskan. Saat aku sampai di Bandara Sepinggan bapak sudah menjemputku bersama saudaraku yang ada di Samarinda. Hal yang pertama terpikir saat aku melihat bapakku kenapa bapak berobat disini jadi kurus begini?
      Di Samarinda aku selalu menyemangati bapakku. Dengan motivasi-motivasi  seperti  masa bapak kalah sama aku, dan bapak minum obat biar sembuh supaya bapak bisa antar aku ke SMA 1. Bapak selalu memimpikan aku bersekolah di SMA 1 katanya sekolahnya bagus.
      Dipagi hari bapak membangunkan aku untuk solat shubuh dan meminta aku menemaninya berjemur disinar matahari katanya bagus untuk kesehatan. Banyak hal yang jarang ku lakukan bersama bapakku kini kulakukan di Samarinda. Bapak adalah tipe orangtua yang tidak suka mengucapkan rasa kasih sayang ke anaknya. Tapi ia selalu menunjukkan dengan perilaku, aku sangat menyayangi bapakku. Rasanya waktu cepat berlalu, bulan Juni aku harus pulang ke Tarakan karena acara hari kelulusan rasanya berat kalau harus berpisah dengan bapak. Sebelum berangkat aku berpamitan yang ku ingat saat itu bapak sedih katanya aku terlalu cepat pulang dan ia mau pulang bersamaku ke Tarakan.
      Karena menahan tangis, selama penerbangan dipesawat aku nangis apalagi aku berangkat sendirian. Aku harap bapak cepat sembuh dan kami bisa berkumpul seperti dulu.
      Bulan Juli 2014, kira-kira puasa bapak pulang ke Tarakan katanya mau berlebaran dikampungnya tidak enak kalau harus berlebaran dikampung orang. Dalam keadaan masih sedikit sakit ia pulang ke Tarakan. Bapak senyum terus sampai rumah di Tarakan dia bilang lama sudah tidak merasakan duduk di rumah sendiri. Aku sama bapak paling hobi makan bubur habis solat shubuh jadi esok paginya aku beli bubur buat bapak dan pertama kalinya juga bapak menolak makan bubur katanya rasanya sudah beda sama yang dulu. Padahal waktu aku makan rasanya masih sama.
      Akhir Juli, penyakit bapak kambuh jadi bapak harus dirawat dirumah sakit. Sering sesak nafas jadi harus pake alat AIBO, susah tidur harus minum obat tidur, karena jarang makan bapak harus diinfus selama 2 minggu bapak berada di rumah sakit dan aku sedang menjalani serangkaian pendaftaran di SMA 1.
      Aku sadar bapak sering menunjukkan hal-hal aneh dan berbicara yang tidak-tidak tapi aku berusaha tegar dengan semua keadaan ini. Jujurlah siapapun diposisiku saat ini pasti sangat frustasi tapi beginilah hidup, segala sesuatu yang hidup akan kembali ke Maha Kuasa. Aku harap kondisiku ini tidak terjadi untuk orang lain karena aku rasa pasti sangat sakit. Sudah tidak ada mama di pertumbuhan remajaku, bapakpun mengatakan akan pergi dimasa remajaku.
“Ya allah, aku berserah diri kepadamu. Karena hanya kepada-Mu aku meminta dan memohon”
      Pada tanggal 13 Agustus 2014. Aku sudah bersekolah di SMA 1 bapak senang sampai orang yang menjenguknya ia ceritakan soalku mungkin menurut orangtua lainnya biasa aja tapi kalau bapakku dia sangat bangga. Penyakit bapak semakin parah 1 hari tabung oksigen harus diisi ulang selama 2 kali jadi harus dirujuk kerumah sakit. Tanggal 14 agustus 2014 bapak berada di UGD saat ini adalah saat yang paling berat untukku bapak bilang mama menjenguknya setelah itu dia sudah tidak bisa berbicara lagi.
      Saat kondisi saat ini aku hanya bisa nangis dan berdoa disamping bapakku. Dan kali ini lebih banyak lagi sanak saudara yang datang firasatku tidak enak. Kira-kira selesai solat ashar bapak sudah dipindahkan di ruangan. Dokter bilang bapak harus dioperasi karena paru-parunya sudah parah tapi bapak menggelengkan kepalanya.
      Anak mana yang sanggup melihat orangtuanya terbaring diranjang  dengan keadaan lemah. Tepat pada saat jam 12 malam bapak sudah komplikasi banyak tindakan yang dilakukan dokter dan perawat karena melihat infus yang tidak bisa masuk ke tubuh bapakku lagi.
      Sampai jam 2 dokter bilang bapaknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jadi kita pertahankan atau lepaskan.
“Pak, bapakkan sudah lihat aku masuk sekolah yang bapak banggakan Cuma itu yang bisa aku kasih ke bapak. Aku ikhlas bapak tinggalkan aku, terlalu lama bapak rasa sakit didunia mudah-mudahan Allah kasih tempat paling mulia untuk bapak dan dipertemukan dengan mama”
      Selama kakakku mengucapkan kalimat suci Syahadat ditelinga bapakku, bapakku menggenggam tanganku. Dan akhirnya mesin jantung berhenti.
Sekarang aku sadar rasa cinta itu diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda apalagi rasa cinta orangtua. Bagaimanapun keadaan orangtuamu kau harus menyayanginya, orangtuamu saja memberi rasa kasih sayang yang sangat besar masa kita sebagai anak tidak bisa memberi rasa yang lebih lagi. Dan ingat tiada kasih yang seindah kasih sayang orangtua.
      Sebagai manusia ikhlas tidaklah semudah yang aku bayangkan, kini banyak hal yang harus aku biasakan karena hidupku bukanlah seperti dulu. Semuanya berubah aku harus belajar menjadi seorang yang dewasa dan dapat menempatkan posisiku saat ini. Mungkin sebagian anak lainnya merasa frustasi tetapi kalau aku terlalu larut dalam kesedihan hidup tidak akan berjalan baik.
      Terkadang jenuh karena keadaan yang tidak seperti dulu lagi, beginilah hidup semua mahluk yang bernyawa akan kembali kepada-Nya hanya waktunya saja yang kita tidak tahu.
      Biasa karena terbiasa. Akhirnya, aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaanku saat ini. Banyak hal yang kusembunyikan dibalik tawa tapi tidak perlulah orang tau. Dengan ada teman yang mengisi hari-hariku aku bisa merasa lebih hidup bersyukurlah banyak hal yang kupelajari dari teman-temanku dengan rasa perhatian yang membuatku selalu senang berada ditengah-tengah mereka.
      Setiap orang tumbuh dewasa nantinya dan akan mempunyai kehidupan masing-masing. Aku belum tau kemana arah kakiku berjalan sekarang pokoknya aku harus menjadi lebih baik lagi. Dan aku tidak boleh menjadi orang yang merugi, hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Mungkin dengan menyemangati diri sendiri bisa membuat melangkah maju.
Kenapa Manusia jatuh cinta?
      Aku tumbuh menjadi remaja mungkin yang sedikit dewasa, aku tidak mengerti kenapa aku semudah ini jatuh cinta. Ya, dulu aku jarang jatuh cinta atau suka-sukaan karena aku punya orangtua yang selalu memberiku kasih sayang sehingga aku jarang mengenal dunia luar. Tetapi, kini aku mulai merasa menyukai lawan jenis. Mungkin ini wajar tapi dengan sifat baperan hal ini malah menjadi kurang bagus.
      Apalagi untuk posisi sebagai perempuan kalau suka ya suka, mana bisa ngapa-ngapain. Mungkin karena gengsi yang terlalu tinggi membuat perempuan serba salah. Tapi kalau terlalu gampang juga kurang bagus nanti jatuhnya sakit.
      Cinta itu buta. Tapi kalimat ini jarang kutemukan, kebanyakan orang menyukai seseorang berawal dari melihat dan menatap baru jatuh kehati kalau cinta itu buta cinta pasti tidak melihat bagaimanapun seseorang. Mungkin cinta itu untuk membuat hidup seseorang lebih berwarna, walaupun hidupku penuh canda tawa bersama teman tapi karena belum ada cinta masih terasa hitam putih.
      Ketika aku menemukan cinta, cinta itu bukan yang kuinginkan. Makanya hal yang sering kupikirkan adalah cinta itu tidak benar-benar buta karena aku merasa kalau aku belum melihat seseorang itu dan langsung jatuh cinta mungkin itu hal yang mustahil atau keajaiban.
      Ada seseorang, aku sadar terlihat dikoridor ada seorang anak laki-laki yang sedari tadi memerhatikanku mungkin ada yang aneh di diriku. Tapi hal ini terus berlanjut sampai akhirnya aku penasaran dia siapa dan kenapa, senyumnya manis. Semakin penasaran membuat aku semakin berperasaan sama dia.
Tik tok tik tok tik tok
      Jangan terlalu merasa, sebulan kemudian aku sudah tau kalau dia sudah punya pacar. Memang dia tidak bilang suka dan tidak memberi harapan. Salah memang untuk mencari cinta sekarang.
      Setelah itu, aku merubah diri mungkin menjadi sedikit lebih kalem.
aku tipe orang yang geragasan jadi mungkin orang tidak suka melihat aku begini, sekarang aku harus menutup hati dan tidak boleh baperan lagi.
      Baper adalah musuh diriku, dia Cuma bisa buat aku sakit hati.
sebagian orang mungkin berpikir aku selalu bahagia tapi terkadang aku memikirkan masalah dirumah, semenjak orangtuaku pergi aku selalu merasa banyak masalah bagaikan bunga tak bertangkai aku tidak bisa berdiri tanpa orangtuaku.
      Aku juga mau disayang tapi karena sudah besar lebih baik aku diam. Aku tidak bisa mengungkapkan hal seperti ini.
Hitam putih hitam putih
      Menyukai seseorang dalam waktu yang lama adalah hal yang paling menyakitkan. Aku tidak percaya akan cerita dongeng atau sinetron yang berakhir bahagia. Terlalu dibuat-buat mungkin terjadi kepada beberapa orang tapi aku................


Hahihuheho
      Jangan terlalu bahagia nanti jadi kecewa. Aku percaya hal ini karena aku sering senang seperti terbang diatas awan tetapi sayangnya kalau aku sudah tau kemungkinan yang menyakitkan aku seperti dihempas ketanah mungkin lebih sakit lagi.
      Bodohnya manusia sudah tau resiko yang menyakitkan aku malah merasakan hal seperti itu lagi, untuk berjuta-juta perempuan mungkin aku yang paling baper dan hanya memilih satu laki-laki yang tidak mungkin menyukai aku.
      Mungkin aku harus jadi perempuan yang  lebih judes sedikit, tapi itu bukan diriku. Dimasa-masa saat ini aku harus mencari mana yang di diriku mana yang bukan jadi aku harus bisa memfilter yang mana baik dan tidak untuk aku.

      Mungkin aku harus bersabar menjalani hidupku yang belum kutahu ujungnya. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah merestui jalan seorang anak yang sudah tidak mempunyai orangtua. 
 

Cerpen "Dibalik Kesuksesan" by Rizqi Widya Rahayu (XI MIA 1)

Dibalik Kesuksesan
Oleh : Rizqi Widya Rahayu (XI MIA 1)
            Aku adalah siswi kelas dua bangku sekolah menengah atas swasta di Bandung. Hanya gadis remaja yang hidupnya sama seperti remaja 17 tahun pada umumnya. Aku tinggal di tengah kota yang penduduknya masih terhitung sedikit. Aku tinggal bersama dengan ayahku yang bernama Bima Wahyu Kusuma  ibuku  Aliantara Indriani  dan dua kakakku. Kakakku pertama bernama Kevin Anugrah Bimantara aku biasa menyebutnya mbrot karena postur tubuhnya yang gemuk dan tinggi. Mungkin postur tubuh itu dikarenakan kebiasaannya yang selalu makan. Kakakku yang kedua bernama Ricky Adi Bimantara. Kevin telah menikah dengan mahasiswi keperawatan salah satu universitas ternama di Yogyakarta sedangkan Ricky masih menjalin sebuah hubungan dengan salah satu mahasiswi Kebidanan yang merupakan teman sekampusnya disalah satu perguruan tinggi negeri di Samarinda. Oiya aku hampir lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Kinara Amanda Bimantara. Nama Bimantara dari kami bertiga diambil dari gabungan nama kedua orang tua kami yaitu Bima dari ayahku dan Antara dari ibuku dan jadilah BimAntara.
            Ayahku bukanlah seorang bangsawan ataupun orang kaya yang bisa memberikanku apapun yang kuminta. Sekalipun aku mengingankan sesuatu aku hanya mengadukannya kepada ibuku dan ibuku lah yang nantinya akan memberitahukan pada ayahku. Jika ayahku tidak memberikannya, aku dapat dengan bebas memintanya kepada kedua kakakku yang sama-sama bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Istri Kevin selalu memberikanku uang tanpa sepengatahuan orang tuaku dan dia menyuruhku untuk tidak mengatakannya kepada mereka.
            Hidupku sama halnya dengan perempuan pada umumnya membantu ibuku membersihkan rumah, mengerjakan apapun yang belum beres dari rumahku. Ini sudah kewajibanku. Aku harus sedini mungkin bisa mengerjakan hal yang yang sewajarnya dilakukan perempuan pada umumnya.
Aku mulai merasakan banyak hal yang berubah semenjak aku mempunyai android yang tidak lain tidak bukan adalah pemberian istri Kevin ketika aku berulang tahun. Aku banyak berkembang. Entah malah berkembang lebih baik atau berkembang jauh lebih buruk. Tapi aku merasa dengan aku mulai mempunyai kesenangan tersendiri pada saat aku memiliki android  ini. Aku tidak perlu repot-repot turun dari kasur mengerjakan semua kewajibanku sehari-hari layaknya mencuci piring, mencuci baju dan yang lainnya. Apapun yang aku mau bisa dituruti oleh hp ini. Bahkan aku bisa berbelanja menggunakan hp memilih barang sesukaku. Aku selalu meminta uang pada istri Kevin untuk membeli apapun yang aku inginkan. Aku bisa dengan mudah akrab dan dekat dengan siapapun dengan social media yang ada dihp baruku ini. Bahkan aku bisa kenal dengan laki-laki yang bernama Sandy Pratama. Sandy adalah kakak kelasku sendiri. Kami pertama kali kenal melalui aplikasi blackberry massenger (BBM).
”Hai.” sapanya melalu BBM. “Iya ada apa kak.” balasku sopan terhadap kakak kelas. Akhirnya kamipun chat yang menurutku lumayan panjang untuk orang yang baru saja saling kenal. Sandy sendiri tidak mengenalku bahkan dia belum tahu aku orangnya yang mana. Karena penasaran berhubung jam mata pelajaran olahraga kami bersamaan ada dihari Senin dan dia pun mencariku. Semakin sering chat ternyata Sandi menyimpan perasaannya kepadaku. Akupun demikian. Dan akhirnya kamipun menjalin hubungan pacaran. Selang Sembilan bulan pacaran, berhubung karena Sandi sudah lulus dan dia diterima di Sekolah Pemeritahan, dia memberitahuku bahwa ia tidak dapat memegang hp selama berpendidikan disana. Dia menyuruhku untuk menunggunya selama empat tahun. Aku ingin yang terbaik untuk dirinya. Hubungan kamipun merenggang.
Hari pun berganti minggu. Hari-hariku masih diisi selalu dengan android baru. Sampai pada akhirnya ibuku sakit-sakitan. Aku sendiri tidak tahu sakit apa. Yang aku ketahui ibuku selalu berkata dia tidak apa-apa. Ibuku selalu bolak balik masuk rumah sakit untuk rawat inap. Aku selalu menanyakan hal ini pada ayahku. Namun ayahku selalu menjawab dengan jawaban yang sama. “Ayah, ibu sakit apa sebenarnya? Tolong beritahu Nara.” Tanyaku pada ayah. “Ayah sendiri tidak tahu Nara. Ayah selalu mencemaskan kesehatan ibumu yang semain hari semakin menurun dan ayah selalu berharap apapun itu pasti yang terbaik untuk ibumu.” Jawab ayah denagn wajah lesu duduk diruang tunggu rumah sakit. Jujur aku merasa seperti ada yang ayah tutup-tutupi dariku. Terlihat jelas sekali dari raut wajahnya.
Belum tepat sebulan ayah memberitahuku bahwa ibu harus segera dioperasi. Mau tidak mau aku harus menyetujuinya begitupun Kevin dan Ricky. Dengan berat hati kami semua harus menyetujui ibu untuk dioperasi demi kesembuhan dan kesehatan terbaik ibu. Dan inipun demi kebaikan ibu sendiri. Aku kecewa karena sampai sekarang aku belum tau ibu sakit apa. Ayah pun langsung menuju ruang administrasi untuk penyelesaian urusan persetujuan dan penanda tanganan surat operasi ibu.
Keesokan harinya aku ingat sekali itu pukul dua siang dan itu tepat sekali pukul dua siang. Aku baru saja pulang sekolah dan tanpa pulang kerumah aku langsung saja pergi kerumah sakit karena sebelumnya ayah telah menelponku dan mengatakan bahwa ibu akan dioperasi pukul tiga sore ini. Itulah sebabnya aku bergegas pergi kerumah sakit sepulang sekolah tanpa ada niatan untuk berganti baju terlebih dahulu. Entah mengapa perasaanku tidak enak pada hari itu semoga saja tidak terjadi apa-apa. Sesampainya dirumah sakit, dilorong ruangan operasi ibu telah banyak keluarga besarku kumpul untuk menengok ibu. Bahkan akupun melihat keluaga jauh dari luar kota berdatangan untuk melihat keadaan ibu. Wah perasaanku pun semakin tidak karuan. Apa yang terjadi dengan ibu sampai-sampai keluarga dari luar kota pun datang.
Akupun menanyakan dimana keberadaan ibu kepada pamanku “Paman dimana ibu sekarang? Diruangan apa?”. Pamanku menunjuk salah satu ruang isolasi yang juga ada dilorong tersebut. Aku pun bergegas masuk keruangan tersebut dan mendapapati ibu sedang dipersiapkan untuk memasuki ruang operasi. Aku pun tak henti menciumi tangan ibu. Entah mengapa aku merasa perlu untuk melakukan itu semua. Setelah semua persiapan selesai, ibuku pun dibawa keruang operasi yang letaknya hanya beda dua ruangan dari ruang isolasi tadi. Aku terus memegang tangan ibu sepanjang jalan menuju ruang operasi. Sampai pada akhirnya aku ditahan oleh tante Karin. Aku tidak diperkenankan memasuki ruang operasi dikarenakan hanya dua orang saja yang dinolehkan masuk. Aku sungguh sangat kecewa. Kenapa aku tidak boleh masuk? Kenapa hanya ayah dan Kevin saja yang diperkenankan masuk? Disitu aku sempat marah tetapi ditenangkan oleh tante Karin.
Lama sekali kami semua menunggu operasi ibu selesai. Wajah cemas terlihat jelas sekali pada seluruh keluargaku yang berada dilorong pada siang itu. Perasaan cemas, bimbang dan khawatir pun campur aduk dalam pikiranku. Aku terus sibuk membayangkan apa yang dilakukan para dokter terhadap ibu didalam sana.
Berjam-jam kami menunggu tapi tetap saja belum ada tanda-tanda bahwa operasi ibu telah selesai. Akupun pasrah menunggu diluar ruangan. Tak lama selang beberapa menit setelah adzan maghrib. Aku ingat sekali itu pukul setengah tujuh sore tepat tiga jam setengah ibu, ayah, Kevin dan para dokter berada dalam ruangan. Akhirnya ayah dan Kevin keluar masih dengan pakaian lengkap biru dengan penutup kepala, pakaian yang identik dengan sterilnya ruang operasi. Aku heran. Mengapa wajah ayah berubah. Ayah seperti habis mendapatkan cobaan yang bahkan aku sendiri tidak pernah melihat wajah ayah sesedih itu. Kevin langsung pergi menuju kamar kecil dengan raut wajah yang serupa dengan ayah.
Aku pun bertanya kepada ayah apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa wajah ayah berubah? Mengapa Kevin pergi meninggalkan kami dengan raut wajah yang serupa dengan ayah? Entah bagaimana hati dan pikiranku saat itu. Perasaanku tak karuan. Lalu ayah pun duduk tepat di sampingku. Aku pun sempat terkejut saat ayah tiba-tiba saja memelukku. Ayah berkata bahwa ibu sudah dipanggil sang pencipta. Dengan segera aku melepaskan rangkulan ayah. Aku nangis sejadi-jadinya saat kalimat tersebut keluar dari mulut ayah. Tangisku pun memuncak ketika jenazah ibu dibawa keluar oleh para perawat. Aku masih tidak percaya dan akupun mencoba untuk membuka selimut penutup wajah dan tubuh ibu. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Seingatku, aku dikerumunin oleh sanak kelurga di dalam kamarku dan aku terbaring dipangkuan wanita yaitu sahabatku dari kecil, Akira. Aku kembali teringat pada ibu. Aku keluar dari kerumunan tersebut meninggalkan Akira dan segera lari menuju ruang tamu. Aku ciumi jenazah ibuku. Mungkin inilah malam terakhirku bersama ibu. Aku rela tidak tidur untuk menemani dan menjaga ibu dimalam terakhirnya dirumah.
Aku tidak bisa berhenti menangis melihat jenazah ibu mulai diganti pakaiannya dengan kain putih bersih yang akan abadi menemani ibu di tempat peristirahatan terakhirnya. Aku ikut menemani ketika jenazah ibu dimandikan. Sampai pada akhirnya ibu disolatkan dan dibawa ke tempat pemakaman keluarga tidak jauh dari rumah. Aku sudah merasa tidak sanggup menjalani hidup ini tanpa ibu. Bahkan menangis pun rasanya tidak sanggup. Air mataku rasanya telah habis. Aku berjalan pun dibantu oleh Akira. Ingin rasanya aku menemani dan menjaga ibu. Aku takut ibu kesepian. Setelah ibu dimakamkan pun aku tidak berniat untuk pulang. Aku berlutut menciumi nisan ibu. Ayah pun berusaha membuatku untuk tegar dan membuatku sedikit tenang dan membawaku pulang.
Hari demi hari orang dirumahku pun berkurang seiring selesainya acara tujuh harian ibuku. Setiap harinya aku selalu ditemani oleh Akira. Aku mersa jahat karena tak pernah menghiraukan kehadirannya. Aku selalu sibuk menciumi foto terakhir ibu.
Dua minggu setelah meninggalnya ibu akupun melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sekolah dan aku yakin pasti tugas telah menanti. Sesampainya di sekolah aku disambut oleh rangkulan sahabatku. Sungguh ini tidak nyaman. Bermunculan ucapan bela sungkawa. Dari guru dan juga teman-temanku. Oh Tuhan aku sungguh benci hal ini. Aku merasa diperhatikan hanya karena aku dikasihani. Aku mulai menyendiri dikelas bersama dengan foto ibu. Aku tidak berkeinginan untuk keluar kelas karena aku yakin pasti aku dapat kata “sabar” untuk kesekian kalinya.
Setiap hari aku selalu berada di rumah sendirian. Kevin tinggal bersama keluarganya, Ricky kuliah diluar kota. Dan ayah? Ayah berubah akhir-akhir ini berubah menurutku. Ayah selalu pergi rumah tetangga yang statusnya juga cerai mati dengan tiga anak dan semua anaknya berusia dibawahku. Aku cemburu dengan wanita itu. Aku mengakui secara meteri aku telah cukup bahkan sangat mencukupi jika tidak ada tambahan dengan wanita itu yang tiba-tiba masuk ke kehidupanku merenggut semua. Semua kepunyaanku, semua kesenanganku, semua kebahagiaanku, bahkan sekarang dia perlahan telah merebut ayah dariku. Setiap bulan ayah memang selalu memberikanku jajan. Tapi sekarang aku kehilangan kasih sayang ayah. Ayah telah memberikan seluruh waktunya terhadap wanita yang tidak lain adalah teman dekat ibuku dulu sewaktu masih hidup. Pernah sekali ayah menanyakan perihal istri baru. Aku tetap tidak menyetujuinya terutama saat ada pertemuan sekeluarga bertepatan ketika Ricky juga libur
Pertanyaan ini selalu muncul dibenakku “Apakah aku punya keluarga?”. Jika iya dimana keluargaku? Aku selalu sendiri dirumah mengerjakan apapun sendiri. Menjadi pembantu di rumah sendiri. Jika dikatakan aku tidak punya keluarga, aku masih punya ayah kandung dan masih hidup sekarang. Hidup ini tidak adil. Disaat remaja lain seusiaku bersenang-senang dengan teman sebayanya. Sedangkan aku dihadapi oleh cobaan yang tidak sewajarnya diberikan kepada remaja seusiaku.
Setiap hariku selalu diisi dengan sekolah, kesedirian dan selalu ditemani oleh foto ibu. Sesekali aku menengok makam ibu sepulang sekolah. Pada akhirnya, setelah pulang dari makam, aku mendapati rumahku ramai. Rumah wanita itu juga. Aku menanyakan apa yang terjadi kepada keluargaku. Dan ternyata jauh diluar dugaanku. Pamanku mengatakan bahwa ayahku baru saja melakukan ijab qabul tanpa kehadiranku.
Oh Tuhan . . . Cobaan apalagi ini. Lagi dan lagi Engkau memberikanku cobaan yang aku sendiri tidak bisa menghadapi masalah itu. Disaat masalah lain aku belum sanggup menghadapinya. Sekarang mengapa ketika aku mulai bangkit Engkau memberikanku cobaan yang aku tidak tahu jalan keluarnya
Aku terima semua masalah yang bertubi-tubi datang kepadaku. Setahun pun terlewat. Tanpa ibu, tanpa semua kebahagiaan yang dulu setiap hari aku dapatkan, tanpa ayah yang dulu setiap harinya selalu menghiburku. Sekarang ayah telah milik orang lain. Aku merasa tidak dianggap lagi. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan selama setahun ini.
Sampai pada akhirnya akupun lulus dan diterima di perguruan tinggi negeri di kota yang juga merupakan kota tempat Sandy kuliah sekarang. Dan beruntung sekali Akira pun juga diterima di tempat yang sama denganku. Hanya saja aku jurusan kebidanan dan Akira jurusan ekonomi. Inilah kebahagiaan yang telah lama tidak aku rasakan. Inilah kebahagiaan yang selama ini aku dambakan. Terima kasih Tuhan dibalik semua masalah ini Engkau masih menyisipkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Akhirnya aku pergi meninggalkan ayah dengan istri barunya. Aku akan mulai menyusun masa depan dengan caraku sendiri. Aku bisa bebas dari kesepian yang selalu aku rasakan setiap harinya. Aku bisa megekspresikan apapun yang aku suka. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Mungkin ungkapan itu yang meggambarkan diriku sekarang. Aku melanjutkan pendidikan disertai juga menghibur diri.
            Enam bulan berlalu. Satu semesterku pun telah terlewati. Ada libur beberapa hari aku manfaatkan untuk berjalan-jalan bersama Sandy dan Akira. Dan ketika sedang berada diperjalanan Kevin menelponku dan mengatakan bahwa ayah telah bercerai dari istri barunya. Dasar istri tidak tahu diuntung fikirku. Disaat ayah mulai sakit-sakitan dia meninggalkannya begitu saja.  Dan sekarang ayah tinggal bersama Kevin dan istrinya. Akupun berniat kembali begitu ada libur panjang.
            Empat tahun terlewat dan aku lulus dengan predikat sarjana terapan kebidanan dan memilih penempatan kerja dirumah sakit di kota asalku. Mulai sekarang aku akan membahagiakan ayah dan keluargaku. Dan aku yakin ibu di surga sana pasti akan bangga melihat anak bungsunya sukses.



*END*
 

Cerpen "Lauda Si Anak Ikan" by Arya Rizky Ramadhan (XI MIA 1)

Lauda Si Anak Ikan
Oleh : Arya Rizky Ramadhan (XI MIA 1)

 Masih teringat dipikiran Lauda dengan kekelaman hidupnya dulu. Keterbatasan yang ia miliki dan kekurangan yang ada didalam dirinya. Semua itu menjadi beban hidup Lauda semasa kecilnya sampai ia beranjak dewasa pun masih berbekas dihatinya. Beban tersebut masih dibawanya hingga ia mencapai kesuksesannya. Terkadang masih tersimpan keinginan untuk membalaskan semua yang telah dirasakanya semasa kecilnya. Namun terkadang juga ia ingat bahwa itu adalah perbuatan yang buruk, tetapi karena perasaan tersebut masih sangat berbekas didalam lubuk hatinya Lauda, ia pun berniat ingin sekali menyatakan bahwa ia sudah bukan seperti yang dulu apa yang dikatakan oleh teman-temannya. 
15 Oktober 1990 Lauda dilahirkan kedunia melalui seorang ibu yang sangat baik dan sabar mengandungnya selama 9 bulan. Lauda terlahir di keluarga yang dibawah standar atau tidak bercukupan. Namun Lauda sangat beruntung memiliki seoarng ayah yang dapat menghidupinya dan menafkahinya. Ayah Lauda bekerja sebagai tukang penjual ikan keliling untuk menghadapi keluarganya kecil. Sedangkan ibu Lauda hanya sebagai ibu rumah tangga, keluraga kecil. Lauda tinggal di sebuah daerah Sulewesi Tenggara yang bertempatan didaerah Buton tepatnya di kampung mawasangka.
Selang berumur 10 tahun Lauda sudah menginjak pendidikan di sekolah dasar. Masa kecil Lauda sangatlah penuh dengan kerja keras, diumur yang masih belia itu Lauda sudah membantu. Ayahnya untuk berjualan ikan dipasar. Disamping Lauda juga bersekolah, Lauda juga harus memikirkan hidup keluarganya, begitulah yang dihadapi Lauda. Lauda telah duduk di kelas 3 SD, di sekolah dasar Mawasangka.
Disekolah Lauda termasuk anak yang pandai dan trampil, Lauda selalu masuk 10 besar dikelasnya. Namun dibalik kepintarannya tersebut Lauda mempunyai banyak teman yang sering merendahkannya karena Lauda yang berkulit hitam serta badannya bau ikan. Tetapi Lauda tidak pernah mempedulikan kata-kata temannya terebut. Lauda hanya berkata kepada teman-temannya “suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang sukses”.
Saat itu sebelum Lauda berangkat ke sekolah, Lauda menyempatkan untuk membantu Ayahnya mengantarakan ikan ke pasar.
“Laudaaaaaaa, bangunnnnnnnnn tolong ayah dulu antarkan ikan kepasar,” Teriak Bapak Lauda.
“Iya pak, sebentar aku mau cuci muka dulu,” Sambil membuka mata dengan perahan dan melihat sinar matahari dari jendela, Lauda bergegas menuju kamar mandi.
“ayoooooo Laudaaaa,” Bapak Lauda sambil menunggu diluar rumah.
“ayooo pak kita berangkat,” Sambil mengangkat box yang berisi ikan.
Bapak Lauda dan Lauda bergegas menuju pasar sebelum menjelang pagi, pasar yang akan dituju sangat jauh berkilo-kilo meter.
Sesampainya di pasar Lauda langsung meurunkan box yang berisi ikan dan menaruhnya di tempat jualan. Lauda sambil menurunkan ikan, Lauda melihat jam tepat berada diatas tempat jualan yang tadinya ia menurunkan box ikan di jam tersebut menunjukan pukul 6.45 WIB, 15 menit lagi bel masuk sekolah akan segera berbunyi.
“Pak sepertinya aku akan terambat sekolah, 15 menit lagi sudah masukan,” Gelisah Lauda.
“Waduhhhh gimana yaa bapak masih menyusun ikan kalo gitu kamu pergi jalan kaki saja yaaa, bapak nggak biasa antar kamu kesekolah, nggak papa kan ?,” Bapak Lauda sambil menyusun ikan di meja.
Dengan berat hati Lauda pun berjalan kaki untuk pulang kerumah dan berjalan kaki lagi untuk sampai kesekolah.
“yasudah pak nggak papa aku berjalan kaki saja” Jawab Lauda dengan sabar.
“assalamualikum pak,” sambil mecium tangan bapaknya.
“walikumsalam nak hati-hati yaaaa,”.
Bapaknya pun hanya dapat melihat buah hatinya terebut berjalan kaki.
Sesampainya di sekolah Lauda terlambat 10 menit, namun untung saja guru belum datang untuk mengajar di kelasnya. Saat Lauda masuk kelas dan duduk dikursinya tiba-tiba ada teman Lauda yang mencium aroma tak sedap.
“Bau aneh apaan nih ?!,” Teriak teman sekelasnya Lauda.
“Iya, perasaan tadi tidak ada bau apa-apa,” Sambut teman sekelas lainnya.
“Sepertinya bau ini berasal dari salah satu dari kita,”
Lauda yang memang sering diolok bau ikan ini pun mersa bahwa dirinya lah yang sedang di sindir oleh teman-temannya. Namun Lauda tetap hanya diam dan tetap sabar ketika disindir  oleh teman-temannya.
“Kayanya baunya berasal dari dia deh,” Ucap temannya sambil menunjuk Lauda.
 “Iya, bau ini seperti bau ikan, karena bapaknya kan penjual ikan jadi bau ikann lahh dia,” Celetus teman-temannya.
 “Iya, bapaknya seorang penjual ikan, Dasar bau IKAN!!!!,” Olok teman-temannya
“Bau ikan! Bau ikan! Bau ikan!,” Teriak teman-teman kelasnya.
Lauda hanya terdiam dan merunduk menahan rasa sakit dari ejekan teman-temannya tersebut. Hanya bisa diam yang dilakukan Lauda sampai guru pun datang dan menenangkan kelas yang rebut. Pelajaran pun dimulai sampai akhir pulang sekolah.
Selesai pelajaran berlangsung, akhirnya sekolah pun pulang. Disaat pulang pun Lauda masih saja diejek oleh teman-temannya. Ejekan tersebut berlangsung sampai setiap temannya bertemu dengan Lauda dan sampai-sampai Lauda pun diberi julukan “SIBAUIKAN”. Makin lama Lauda semakin ditindas dan diejek dengan temannya. Ejek-ejekan tersebut berlangsung sampai lulus SMP.
Lauda pun beranjak ke jenjang pendidikan SMA, Lauda bersekolah di SMA Mawasangka didaerah Mawangsangka. Pergaulan yang dilihat oleh Lauda sudah mulai berbeda. Bukan lagi bermain-main dengan mainan tradisional, tetapi semua sudah memakai teknologi canggih. Lauda yang hanya anak dari penjual ikan ini hanya bisa melotot dan tercengang melihat kemewahan dari teman-temannya di SMA. Lauda masuk di kelas IPA karena nilainya cukup memuaskan dan tinggi. Teman-teman kelasnya Lauda bersikap baik kepadanya karena Lauda memiliki kepintaran yang bisa dibilang pinter sekali di semua mata pelajaran apalagi pelajaran Matematika. Dikelas Lauda dianggap sebagai orang yang bisa di ajak berdiskusi tentang pelajaran apa pun. Guru-guru pun senang kepada Lauda karena ia anak yang tekun, baik, tekun,rajin dan penuh dengan sikap percaya diri. Namun mulai Lauda disenangi teman-temannya dikelas dan guru-guru juga, ada seorang temannya yang iri melihat Lauda yang disenangi oleh teman-temannya dikelas apalagi guru, temannya ini merasa bahwa ketenarannya sudah diganggu oleh Lauda. Temannya yang iri ini bernama Lauta, ia adalah murid yang paling terkenal dikelasnya karena dengan kepintarannya dan kekayaan yang dia milikinya. Tapi ketenarannya itu mulau pudar saat Lauda memperlihatkan kepintarannya ketekunannya dan berbaik hati untuk membantu teman-temannya jika tidak mengerti pelajaran apa saja, sehingga Lauta menjadi seperti biasa saja tidak lagi dianggap terkenal, dari situ lah Lauda mulai dimusuhin oleh Lauta.
Pada waktu itu Lauta sudah sangat geram banget melihat Lauda dengan ketenaran yang semakin menjadi-menjadi, Lauta pun mulai menyusun rencana untuk menurunkan derjajatnya Lauda dan membalikan ketenarannya yang sudah di rebut. Lauta mencari tau tentang kegitan Lauda sehari-hari dan tentang keluargannya.
“Ternyata bapaknya hanya seorang penjual ikan,” Ucap Lauta dalam hati.
Lauta mulai menjalankan aksinya untuk merebut kembali apa yang sudah Lauda rebut darinya. Pada saat itu istirahat sedang berlangsung, memang teman-teman kelas Lauda tau bahwa Lauda mempunyai aroma badannya yang tidak sedap namun teman-temannya hanya diam dan tetap menggangap Lauda seperti teman yang lainnya. Namun tiba-tiba Lauta berteriak bahwa ia sangat terganggu dengan aroma tidak sedap itu.
“Hey siapa yang kentut dikelas ini? !,” Teriak Lauta
“Tidak tauuu,” Teman kelasnya heran dengan tingkah Lauta.
“Apa kalian tidak mecium bau yang tidak enak dikelas ini ?!,” Ucap Lauta dengan keras
“Coba saja kalian cium dari mana aroma tidak enak ini !,” Sambil mencari-mencari sumber bau tidak enak itu dan mengarah pada Lauda.
“Nah tampaknya bau tidak enak ini berasal dari dia,” Lauta menunjuk Lauda dengan jengkel dan sambil menutup hidungnya.
“Iya, baunya memang berada di dia,” Teman-temannya menunjuk Lauda juga sambil menutup hidung.
Lauda yang memang merasa dirinya itu bau ikan, Lauda hanya bisa diam dan sabar dengan mendengar ejekan teman-temannya. Lauda langsung bergegas keluar dan pergi menjauhi teman-temannya dengan muka penuh sedih. Mulai dari kejadia itu Lauda dijauhi oleh teman-temannya yang tadinya temannya senang berteman dengan Lauda yang temannya senang dengan kepintaran Lauda, tetapi semenjak Lauta mengejeknya Lauda menginggat masa dulunya yang hanya sendiri dan tidak ada yang ingin berteman dengannya karena dia bau ikan dan bapaknya penjual ikan.
Lauta yang semakin senang dengan melihat Lauda dijahui oleh teman-temannya itu, Lauta terus membuat rencana untuk menarik kembali teman-temannya. Saat itu Lauta dibelikan handphone baru tag memang pada masa itu sangat terkenal marknya. Pada saat istirahat Lauta mengeluarkan hp barunya dan memamerkannya kepada teman-temannya.
“Hey coba liat aku habis dibelikan hp baru lohhhhhh,” Ungkap Lauta sambil memperlihatkan hpnya.
“woooowwww iya, bagus sekali Uta,” Ucap teman-teman sekelasnya.
“Loh iya dong kan ini mark hp yang baru saja keluar dan hanya aku saja yang pertama membelinya,” Mengucapkannya dengan sombong dan keras.
Lauda yang saat itu melihat-melihat ada ramai-ramai dikelasnya langsung mendatangi dan melihat apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini ko ramai-ramai,” Tanya Lauda sambil mendatangi keramaian itu.
Tiba-tiba semua menoleh kearah Lauda.
“Aduh kok bau banget sih,” Lauta menyindir Lauda sambil menutup hidung.
“Hey kau sudah sana dasar bau ikan mengganggu saja!,” Lauta mengusir Lauda dengan keras didepan teman-temannya.
“Mana bisa anak penjual ikan membei hp seperti ini, ini kan harganya mahal,” Menyucilkan Lauda.
Lauda yang mendengar ucapan Lauta itu langsung pergi dan menjauhi keramaian itu. Lauda hanya dapat tersenyum, namun dalam hati Lauda sangat sakit, hancur dan menahan malu. Lauta semakin menjadi-jadi, Lauta semakin mengucilkan Lauda sampai-sampai semua teman kelasnya juga terpegaruh dengan Lauta untuk tidak berteman dengan Lauda karena Lauta mengancam semua temannya dengan uang.
Waktu pulang sekolah pun tiba, Lauda yang biasanya pulang dijemput bapaknya itu kali ini bingung kenapa bapaknya tidak menjemputnya, ia pun menunggunya sangat lama sampai akhirnya ia memutuskan untuk berjalan  kaki. Saat di tegah perjalanan terdengar dari jauh suara kenalpot mobil sport “buuuuuud buuuuuuudddd” yang nyaring, Lauda pun heran dengan mobil itu. Semakin lama mobil itu semakin dekat, namun tidak lagi terdengar laju tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Lauda, ternyata itu adalah Lauta dengan mengendari mobil yang bagus dan keren.
“Hehhh anak BAU IKAN,” Teriak Lauta. Adi yang saat itu mengetahui bahwa yang ada didalam mobil itu adalah Lauta.
“Dasar anak penjual ikan, kasihan sekali jaman gini masih saja jalan kaki liat aku bawa mobil nggak kepanasan dan nggak cape lagi hahahahahaha!,” Sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan menertawakannya.
Lauda pun sangat geram dan jengkel dengan tingkah Lauta yang memamerakan semua kekayaannya,
“Sombong sekali kau Lauta itu bukan harta mu tetapi punya orang tua mu, jangan memamerkan harta orang tua!,” Ucap Lauda dengan penuh muka kesel dan geram.
Lauta yang juga jengkel dengan ucapan Lauda ke dia langsung memuncak emosi Lauta dan secara spontan mengeluarkan ludah dari mulutnya yang mengenai baju Lauda.
“ Ndaaaaa urusssss kauuuuuu,” sambil mengeluarkan ludah kearah Lauda “cuiih” Lauta kembali melaju dengan mobil mewahnya itu.
Dengan perlakuan Lauta itu. Lauda hanya kembali untuk bersabar karena prilaku Lauta itu Lauda memendam rasa kesalnya itu. Lauda pun pulang dengan baju yang kotor serta membawa luka hati.
Keesokan harinya seperti biasa kegiatan Lauda yaitu membantu bapaknya mengantar ikan kepasar sebelum berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah Lauda meihat Lauta yang sedang dikerumunin teman-temannya karena Lauta memliki barang baru lagi yaitu Laptop keluaran baru leptop Lauta sangat mahal, Lauta pun memamerkannya kepada teman-temannya. Lauda pun sangat geram melihat tingkah Lauta yang suka memamerkan barang mewahnya itu. Lauda pun langsung keluar kelas dan pergi ke ruang perpustakaan untuk belajar karena Lauda tidak memiliki teman belajar dikelas. Di perpustakaan Lauda belajar dengan tenang tiba-tiba Lauda kebelet pipis, ia pun pergi ke toilet. Bertepatan dengan letak mading yang yang berada didekat toilet, Lauda cuman hanya meliat-liat saja. Ternyata di madding itu terdapat poster lomba baca puisi seluruh Indonesia tingkat SMA lomba ini akan diadakan di Kota Bau-bau dan pemenang juara 1 mendapatkan hadiah beasiswa di UNIVERSITAS INDONESIA, langsung Lauda terpikir bahwa ia harus membuktikannya kepada Lauta bahwa omongan Lauda ini bisa dipercaya dan meringankan bapaknya.
Dengan niat yang sangat besar dan rasa keinginan Lauda untuk membuktikannya, Lauda mengejar waktu untuk membuat suatu puisi yang akan dilombakan nantinya. Dengan waktu lomba yang tinggal seminggu Lauda terus focus dalam pembuatan puisinya itu. Mendengar Lauda yang sedang sibuk dengan puisinya itu ternyata Lauta mengetahuinya dan Lauta ingin menjatuhkan mental Lauda. Lauta berjalan ke perpustakaan untuk mencari Lauda ternyata Lauda ada di perpustakaan dan kebetulan ia sedang mengerjakan karya puisinya. Dengan santai Lauta menglewati Lauda dan berkata “ kau tidak akan menang wahai si BAU IKAN hahaahahha”. Lauda semakin jengkel dengan sikap Lauta yang mengganggunya itu. Namun Lauda pun tetap mengerjakan puisinya dengan betul-betul karena dari lomba puisi ini Lauda dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan Lauta itu tidak benar.
Waktu lomba pun sudah dimulai, peserta-peserta lomba sudah bersiap dan mulai membacakan hasil karya puisimya. Namun nomor urut “021” pun dipanggil oleh panitia itu adalah Lauda, Lauda pun maju dan naik keatas panggung dan membacakan puisinya dengan penuh percaya diri.
kupu-kupu baja
 Dia bercerita tentang hidupnya yang selalu terjajah
Dia sedih akan nasib kaumnya yang dianggap tak setara
Dan terpenjara diberlakukan tak adil
Dia tak bisa menerima karena dia berbeda

Aku tak ingin lagi, dianggap lemah
Dan dianggap tidak berdaya
Aku tak ingin lagi, hidup terkekang
Dengan hanya sedikit pilihan
Dengarkan, aku berkata

Ku bukan makhluk lemah, yang harus dimanjakan
Ku bukan makhluk lemah, yang selalu diperdaya
Makhluk lemah ini telah, bermetamorfosa jadi kupu-kupu baja

Aku tak akan lagi, menjadi korban
Egoisnya kaum yang kuat
Aku tak akan mau, hanya dianggap
Pendamping yang selalu menurut
Lihatlah aku berubah

Selalu dianggap, yang lebih kotor
Saat mereka berbuat lebih nista
Selalu dianggap hanya berangka dan berhias
Romantisme mereka…
Selalu dianggap, yang lebih lemah

Ku tak terima…
Aku makhluk lemah yang selalu memohon, untuk dilindungi
Dan tak bisa sendiri
Makhluk lemah ini telah, bermetamorfosa jadi kupu-kupu BAJA!!!
Pengumuman pemenang lomab puisi itu akan diberitahukan 3 hari lagi.
3 hari sudah Lauda menunggu pemberitahuan pemenang lomba itu pengumuman itu akan disebar di mading-mading sekolah menengah atas di buton. Kali ini menjadi hari yang paling istimewa buat Lauda karena ia ingin melihat pengumuman pemenang lomba itu. Dan pada akhirnya Lauda pun menjadi pemenang dan mendapatkan juara 1 serta beasiswa melanjutkan kuliah di UNIVERSITAS INDONESIA hingga sampai serjana.
Dari kemanangannya itu Lauda sudah dapat membuktikannya kepada Lauta bahwa perkatannya itu salah besar. Namun dibalik kesenangan Lauda, ia masih menyimpan luka hati yang diakukan Lauta saat kemaren ia berjalan kaki, Lauda masih menyimpan dendam yang sangat mendalam. Tapi sekarang Lauda masih tetap focus dengan kuliahnya.
Tidak disangka-sangka sekarang Lauda sudah memasuki semester 7 dan sebentar lagi akan membuat skripsi lalu wisuda. Dari kegigihannya dan ketekunan belajar sekarang Lauda sudah dapat menyelesaikan kuliahnya dan akan melaksanakan wisuda. Lauda juga mendapatkan kesempatan bekerja di suatu perusahaan Ikan Impor didaerah Jakarta namun Lauda teringat oleh orang tuannya, karena wisuda itu harus ada orang tua untuk menghadiri wisudannya, karena terbatasnya uang yang dimiliki Lauda, Lauda hanya dapat mengirimkan secarik surat untuk orang tuanya.

Jakarta, 21 Novmber 2014

Bapak Labala
Di Buton
Assalamualikum, wr. wb.
Amamu yinii ne faa namisiinoa onaku, alhamdulilah, anedengkeifu amamu dua, no liwa haloku mpu baye ihinfu, pasaa omeya amaku da maan radhaa na babiympu anaku, pasaomeya awohako daa fa yitu. Tamaka’a amamu yini ayesao, maaf mpu naye ihinfu, amamu yini pageo dayembalia abumatowa ihinfu wisudamu,  yini pageo aku akumapo.sesuati yinis akumapo, sesuatu asunampa wa beast.
Anaiku, menyifoha amamu nkodo faayini inhinter sedige feulagie kafoyinauku ndo huhuba, pokono ihintu ya fumble, baga fekakesaya.
Mengkosabaha feulayiempuu pugauno Amma ginila Lauda

Anak mu tersayang

Lauda ”
Setelah 4 hari surat Lauda terkirim, akhirnya surat itu terbolekab dari orang tuanya. Lauda sangat senang dapat menerimah suratitu. Tetapi apakah daya ketika Lauda membaca surat itu Lauda meneteskan air matanya. Ternyata isi surat itu adalah perminataan maaf orang tua Lauda karena tidak bisa menasihati Lauda,
Buton 25 November 2014
Lauda
Di Jakarta
Assalamualikum, wr. wb.
Dengkeamagi lelema taayifu Amaa? Pasaomeya ka wasanoyampu sadia namaangko mpu kanfaleyano lola baye kataano namiisi. Lele ku waininefaa inodii nodiwa lalotu bhak hiterond kamokulaku kuliah ku nologi yenia semester 7 mo, faamo fetingkeno hasisle’no belulusa mapi, ani daye wisuda faye kakuliah ya alas baye ihintuomo kamokulaku.
Gauku aye wisuda humafoomu bhak himfuromu kamokulaku, waa ini apaawago sabangka metaa, do kenai banaumo bahitiyendo sebangku gayun do da moni itu da amondo liwa faa yitu.
Nagini kawa nifohatoku nage hintuomas kemelulatua gata kee mpu hamaatoma nage wisuda.

Bapak Tersayang

Labalav”

Setelah hamper 5 tahun Lauda bekerja di perusahaan itu karena kerajinannya dan kedisiplinnya dalam menjalankan tugas-tugas perusahaan Lauda diangkat sebagai manager perusahaan itu. Kesempatan itu tidak akan disiasiakan Lauda. Dengan mukanya pangkut Lauda di perusahaan sekarang Lauda sudah menjadi orang yang sukses dan mempunyai harta yang banyak.
Saat itu Lauda sedang berjalan-jalan mengelilingi kota Jakaarta. Tapi tiba-tiba dijalan Lauda melihat seorang pemulung yang tidak asing diingatannya sedang mengumut kaleng bekas disampah. Setelah ia mengingat-ingat lagi ternyata orang itu adalah Lauta orang yang pernah mengucilkanya semasa dulu. Tanpa pikir panjang Lauda langsung membuat mamer balik mobilnya dengan sedikit emosi karena teringat dengan dendamnya terhadap Lauta. Sesampainya ditempat tadi Lauda langsung berteriak memanggil Lauda.
“Heyy, PEMULUNG !,” Teriak Lauda
Lauta yang terkejut dan melihat ke sumber suara itu. Tiba-tiba Lauta terheran dan sangat terkejut, karena yang memanggilnya tadi itu adalah Lauda, orang yang dikenalkannya dulu.
“Asian, teryata sekarang kau hanyalah seornag pemulung yaa!!,” Ucap Lauda sangat senang.
“ternyata kerja mu tak sehebat mulut mu dahulu,” Ungkap Lauda sambil menertawakan Lauta.
Lauta hanya dapat diam dan pergi meninggalkan Lauda, karena malu. Dari situ lah Lauda berpikir untuk membalaskan dendamnya. Lauda mulai memamerkan kekayaanya yang ia miliki, dan hamper setiap hari Lauda menghampiri Lauta ditempat sampah sambil melemparkan sampah ke Lauta. Dendamnya terhadap Lauta semakin besar. Sampah-sampah ia membeli semua barang-barang mewah, makanan mahal, dan kendaraan-kendaraan mewah hanya untuk dipamerkannya kepada Lauta. Namun lama kelamaan dia tidak sadar bahwa semua uangnya sudah habis dan bahkan dia mempunyai utang pada perusahaan lain hanya untuk memamerkannya pada Lauta.
Saat itu Lauda yang sedang berdiam diri dirumahnya terkejut dengan kedatangan perwakilan dari perusahaan yang ia utangi. Dengan 2 bodyguard perwakilan perusahaan itu menagih utang-utang Lauda. Jantung Lauda yang berdebar semakin kencang itu pun membuat Lauda kebingungan ingin berbuat apa ?, tapi penagih itu masih saja menanyakan Lauda.
“ kapan akan kau bayar semua utang-utangmu?,” Ucap penagih dengan sangar.
“ Ma……af, iya aku akan melunasinya bulan ini,” Ucap Lauda dengan gugup.
“ Halah nungak terus ! yaudahlah kalau kau nggak bayar, aku akan sita semua barang-barang mum,“ Jawab sipenagih.
Setelah sipenagih pergi Lauda terus terbayang-bayang akang utang-utangnya. Tiba-tiba entah setan apa yang telah menjerumuskan Lauda, ia terpikir untung mengambil uang perusahaannya diam-diam. Tanpa pikir panjang Lauda pun secara diam-diam mengambil uang perusahaan tersebut. Namun belum juga uang itu dipakainya, ia mendapatkan sebuah mimpi yang menghantuinya saat tidur. Mimpi itu ternyata adalah teringatnya Lauda pada pesan-pesan bapaknya untuk dia. Bayangan-bayangan bahwa jika ia berbuat salah itu pasti ada ganjarannya. Dari situlah Lauda muai tersadar bahwa apa yang telah dilakukannya itu salah. Laudi pun segera mengembalikan uang perusahaan yang sudah diambilnya itu dan untuk melunasi uatang-utangnya Lauda berniat menjual semua barang-brang yang ia sudah beli, menurutnya barang itu hanyala kesenangan semata saja, dan ia pun dapat melunasi semua utang-utangnya.
Dengan tersadarnya Lauda, ia mulai berpikir bahwa ia hanya mengikuti nafsunya saja. Lauda juga berpikir bahwa apa yang sudah ia lakukan kepada Lauta itu juga salah. Dengan rasa malu dan sungkan Lauda menhampiri Lauta di tempat biasa Lauta memungut kaleng. Tanpa memperdulikan rasa dendam yang pernah ia miliki itu Lauda meminta maaf kepada Lauta, begitu juga Lauta kepada Lauda, Lauta mengatakan bahwa ia sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dulu kepada Lauda namun semua itu sudah mereka lupakan dan mereka akan memulai lembaran baru yang lebih baik dan tidak ada dendam satu sama lain. Tidak tega melihat Lauta, Lauda pun menyarankannya untuk ikut bersamanya dan tinggal dirumahnya. Akhirnya mereka sudah mempelajari bahwa harta bukanlah segalanya dan membalas dendam itu tidak ada gunanya hanya dapat menambah masalah serta nasihat orang tua itu harus selalu diamanahkan.
 
 
Support : Diknas Kota Tarakan | SMAN 1 Tarakan | Pascasarjana UNESA
Copyright © 2013. E-BASINDO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger